Pundung termenung seorang diri
Menikmati sepoi angin malam
Tersayat-sayat luka dalam dada
Tak sanggup kulihat lagi sosokmu
Menikmati sepoi angin malam
Tersayat-sayat luka dalam dada
Tak sanggup kulihat lagi sosokmu
Terombang ambing ditengah lautan
Antara pergi dan tetap bertahan
luka ini bercucur deras
Sedangkan kau berlarian ditepi pantai dengan nya
Waktuku terbuang sia-sia
Hanya tuk menyaksikan leluconmu itu?
Kau pikir semuanya itu lucu?
Bagiku itu hal yang amat bodoh
Sungguh ku tak bisa berkata apa-apa lagi
Hembusan nafasku hampir habis
Amat sulit mengucapkan kata selamat tinggal padamu
Andai ku dapat memulung waktu
Takkan ku sia-siakan kesempatan itu
Namun semuanya sudah terlambat
Waktuku sudah habis untukmu
Selamat tinggal wahai bintangku
Cahayamu tetap terang
Walau raga ini tak dapat menjagamu lagi
-Sajak malamku,
Moon.
Antara pergi dan tetap bertahan
luka ini bercucur deras
Sedangkan kau berlarian ditepi pantai dengan nya
Waktuku terbuang sia-sia
Hanya tuk menyaksikan leluconmu itu?
Kau pikir semuanya itu lucu?
Bagiku itu hal yang amat bodoh
Sungguh ku tak bisa berkata apa-apa lagi
Hembusan nafasku hampir habis
Amat sulit mengucapkan kata selamat tinggal padamu
Andai ku dapat memulung waktu
Takkan ku sia-siakan kesempatan itu
Namun semuanya sudah terlambat
Waktuku sudah habis untukmu
Selamat tinggal wahai bintangku
Cahayamu tetap terang
Walau raga ini tak dapat menjagamu lagi
-Sajak malamku,
Moon.
Komentar
Posting Komentar