Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Isyarat Angin Malam

Pundung termenung seorang diri Menikmati sepoi angin malam Tersayat-sayat luka dalam dada Tak sanggup kulihat lagi sosokmu Terombang ambing ditengah lautan Antara pergi dan tetap bertahan luka ini bercucur deras Sedangkan kau berlarian ditepi pantai dengan nya   Waktuku terbuang sia-sia Hanya tuk menyaksikan leluconmu itu? Kau pikir semuanya itu lucu? Bagiku itu hal yang amat bodoh Sungguh ku tak bisa berkata apa-apa lagi Hembusan nafasku hampir habis Amat sulit mengucapkan kata selamat tinggal padamu Andai ku dapat memulung waktu Takkan ku sia-siakan kesempatan itu Namun semuanya sudah terlambat Waktuku sudah habis untukmu Selamat tinggal wahai bintangku Cahayamu tetap terang Walau raga ini tak dapat menjagamu lagi -Sajak malamku, Moon.

CERPEN: Separuh Jantung Yang Hilang

RS.Siloam Bandung 1999 “owek…owek…” terngiang-ngiang suara tangisan sepasang bayi kembar mungil dan cantik yang baru saja lahir dari pasangan Ibu Aisyah dan Bapak Yusuf,kedua bayi perempuan kembar tersebut diberi nama Nurrizki Fitriani Adila dan Nurrizka Syafiatul Annindiya yang diberikan oleh pasangan tersebut. Nama yang sangat islami&indah sekali,mereka ingin pemberian nama tersebut menjadi doa yang terbaik kelak ketika mereka tumbuh besar nanti. Dila merupakan bayi mungil mereka yang memiliki bobot badan yang sangat kecil, yaitu hanya 1.700gram sedangkan Diya merupakan bayi yang memiliki bobot 3,2kilogram,perbedaan berat badan mereka sangatlah berbeda. Sebenarnya dokter memprediksi bahwa hanya 1 bayi yang bisa bertahan hidup lama,sedangkan bayi 1 nya diperkirakan hanya bisa bertahan hidup sekitar 2mingguan,sebabnya karena bobotnya terlalu kecil. Karena bayi Dila terlalu kecil ia pun dibawa oleh suster kedalam ruang pemanas inkubator bayi selama 3minggu ...

Cerpen "Menanti Petunjuk Dari Maha Pencipta Hati"

Mengenalmu, aku menemukan hal menyenangkan  pada dirimu yang buatku nyaman. tak terasa, beberapa bulan ini kulalui dengan indah, tanpa sehari pun terlewati untuk sekedar bertanya “apa kabar?” Entahlah… Sampai saat ini pun aku tak bisa mendefinisikan semua ini. Yang pasti ada rasa sayang meski tak terkata, rasa cemburu meski tak terucap, bahagia, curiga, dan selayaknya pasangan kekasih. Yang berbeda adalah tak pernah ada kata-kata jadian ke luar dari mulut indahmu, walaupun telah beberapa kali aku mengungkapkan perasaanku padamu. Kadang ingin kutanyakan perasaanmu yang sesungguhnya. Namun aku takut semua berubah. Rasa takut kehilangan apa yang telah susah payah kubangun bersamamu. Meski aku sadar, pohon waktu semakin tinggi, bukan saatnya lagi berdiam dalam hubungan yang abu-abu. Namun sekali lagi, aku takut menanyakan ini padamu. Aku membiarkan semua pertanyaan dalam benakku menguap begitu saja. Aku mengikuti setiap irama yang kau ciptakan dalam hubungan i...
"Isyarat Rindu Sang Purnama"  by:Viana Tiara Islami  Dibalik bukit kau isyaratkan rindu mengisyaratkan tentang kenangan lampau memberikan setitik cahaya yang mungkin bisa aku rasakan, meski terasa hening yang begitu mendalam. syair-syair pujangga berserakan di halaman padang kerinduan melukiskan kata yang tak bisa dijawab tak bisa terlihat tak bisa terdengar tetapi lubuk hati bisa merasa malam ini bulan yang kita lihat sama sama dalam tiap bait-bait cahayanya sama dalam baris-baris maknanya sama dalam kalimat-kalimat setiap kabarnya dan selalu bersama dalam pegangan yang selalu terikat maka aku hias semunya dalam bulan yang merindu karena aku yakin kau akan selalu melihatnya.

puisi

“Beri Aku Nyawa Sekali Lagi” by Viana Tiara Islami Berjalan setapak demi setapak Menyusuri lembah dalam kesunyian Kosong hening tak berpenghuni Bisu lemas terbujur kaku Gelap sunyi tanpa suara Semakin dalam semakin takut Linglung bingung tak karuan Mulut terkunci sangatlah rapat Terbelalak tersiksa kesakitan Terluka bernanah terkelupas Hilang terpisah tercincang-cincang Tak bertulang tak berbentuk Amat pedih rasanya Tangisan darah bercucuran Tiada henti mengalir deras Ingin rasanya kembali Beri aku nyawa sekali lagi