Langsung ke konten utama

BERUNTUNGLAH ORANG YANG ASING:)

AKAN ada zaman ketika melaksanakan tuntunan menjadi tontonan. Akan ada masa tatkala menunaikan keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dianggap sebagai keanehan. Akan ada saat manakala bersungguh-sungguh dalam memenuhi kewajiban agama dipandang sebagai perilaku berlebihan dan bahkan melampaui batas. Akan datang suatu masa saat berpegang teguh kepada dienul Islam ini dianggap ketidakwarasan. Mereka asing di mata manusia, dan manusia pun mengasingkannya. Tetapi mereka adalah sebaik-baik manusia….
Teringatlah kita kepada sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
“بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ”
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang ‘asing’.” (HR Muslim).
Jika telah tiba masanya, yang bersungguh-sungguh melaksanakan agama ini dianggap aneh. Amalan mereka tampak asing. Mereka melaksanakan amal shalih dan ‘ibadah berdasarkan tuntunan shahih dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, tapi manusia mengingkari. Orang-orang yang dianggap asing dan terasingkan itu sesungguhnya justru orang yang shalih di tengah-tengah kerusakan yang menimpa ummat. Tapi sebagian besar manusia mengingkari. Hanya sedikit sekali manusia yang mendengar kata-katanya dan mengikuti apa yang dinasehatkannya.
Inilah masa ketika petunjuk yang terang dari nash (Al-Qur’an & Sunnah) diabaikan. Nash diambil bukan untuk dalil, tapi untuk pembenaran. Inilah masa ketika orang banyak yang beramal berdasarkan perkataan-perkataan orang yang pandai bicara, meski nyata bertentangan dengan nash. Inilah masa ketika berpegang teguh pada sunnah justru dianggap meninggalkan sunnah. Mereka dicerca dan tersisih. Kebenaran bagai bara api.
Mari sejenak kita renungi nasehat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
“يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ”
“Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.” (HR. Tirmidzi).
Agama ini terasing dari ummat Islam, di antaranya bersebab semakin sedikitnya orang yang memberi nasehat dan peringatan. Inilah masa ketika majelis agama tak lagi memberi ilmu, nasehat dan peringatan. Bahkan keluh lidah para penceramah dari memperingatkan.
Inilah masa ketika orang-orang yang dijadikan anutan tak lagi memiliki muru’ah (kehormatan, wibawa). ‘Izzah (harga diri, kehormatan) dakwah runtuh. Keduanya ditukar dengan tana’um(bermewah-mewah sebagai gaya hidup). Inilah masa ketika wahn (cinta dunia takut mati) danwaham merasuk kuat, seakan muru’ah hanya tegak dengan kemewahan dan penampilan. Inilah masa ketika majelis agama berubah menjadi hiburan dan senda gurau; memberi kesenangan tanpa menumbuhkan ketaqwaan.
Manusia berlomba memegah-megahkan masjid melebihi peruntukannya. Banyak yang ramai oleh manusia, tapi kosong dari hidayah. Yang seharusnya memberi nasehat dan peringatan tak memiliki ‘izzah agama dalam dirinya, sehingga sibuk menampakkan diri menarik. Ia mengikuti mustami’in (audiens) dan tak berani menyampaikan perkara-perkara yang menyelisihi selera mustami’in. Hanya ada penuturan, tanpa peringatan. Banyak menahan nasehat bersebab senantiasa anggap ummat tidak siap, tapi tak pernah mempersiapkan mereka.
Adakah ini terjadi? Semoga belum. Ataukah ini masa yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud? Masa ketika orang bertekun mendalami agama untuk dunia. Mereka bersemangat mendalami agama bukan untuk kepentingan agama, tetapi untuk meraup dunia. Tak selalu berupa kekayaan, tetapi ketekunannya mendalami agama bukan untuk menegakkan agama ini.
Renungkanlah perkataan mulia ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai diriwayatkan oleh Al-Hakim:
Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu anhuberkata kepadanya, “Kapankah itu terjadi, wahai ‘Ali?”
 
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menjawab:
 
إِذَا تُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّيْنِ، وَتُعُلِّمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِغَيْرِ الآخِرَةِ.
“Fitnah-fitnah tersebut terjadi jika fiqih dikaji sungguh-sungguh bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat.” (Riwayat Al-Hakim).
Perhatikanlah sejenak penjelasan menantu kesayangan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini. Betapa berbedanya. Di masa shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in, mereka mencari kehidupan dunia untuk akhirat. Sementara di zaman fitnah, kehidupan dunia dicari bukan kepentingan akhirat. Bahkan sebagaimana diperingatkan oleh Ibnu Mas’udradhiyallahu ‘anhu, pada masa fitnah agama tersebut, manusia justru mengejar dunia dengan amal akhirat. Maka, kelak kita akan saksikan orang bersungguh-sungguh melaksanakan shalat Dhuha maupun sedekah karena ingin mengejar dunia. Seakan Allah Ta’ala tak akan melimpahkan harta kepada kita jika meminta sebelum melakukan keduanya.
Hari ini, ada di antara sebagian manusia yang tak putus mengerjakan shalat Dhuha, tapi shalat fardhunya diletakkan di belakang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi

Pamit Untuk Kembali Pamit.... Itu kata terakhir yang kau ucap, dalam jumpa kita. Kuharap kau pamit untuk kembali, bukan pamit untuk beranjak pergi. Hatiku telah kau curi, kelembutanmu yang membuat detik berhenti sesaat. Pesonamu yang membuat diri tak kuasa beranjak, tak bergerak. Kau adalah doa baruku, yang kulangitkan setiap waktu. Menggumpal menjadi titik titik awan, kuharapkan menjelma hujan kenyataan, beserta selaksa hujan kebaikan. Sayangku, Tiada lain pintaku semoga kau jadikan hatiku ini rumah, untukmu selalu rebah, lepaskan lelah. Semoga kau tak pernah tersesat, dan selalu temukan jalan tuk pulang. Sidoarjo, Agustus 2019, kala itu, waktu kau pamit sebelum musim hujan

Hello, I'm Comeback Again! After 3 Years

 Hi my blog, Sudah lama ternyata aku tak mengunjungimu. Maafkan aku ya, baru sempat berkunjung lagi. Karena moodku saat ini sedang ingin menulis Sebagai anak pertama dan cucu pertama perempuan rasanya amatlah tidak mudah bagiku. Harus menjadi contoh serta panutan yang baik untuk semuanya. Do'akan semoga aku mampu dan kuat melewati semuanya ya?:) Supaya aku tidak gagal menjadi contoh kakak dan cucu pertama. Saat ini banyak yang aku selesaikan Untuk membahagiakan serta membanggakan kedua orangtuaku. Terutama tuk menyelesaikan tugas akhirku. Keep Hamasah! AllahSWT Always with me.

Catatan Dietku

Badanku dulu tak begini, entah mulai kapan mengelembungnya, padahal dulu aku bayi imut lho. Gak percaya? percaya aza dech, masa ya harus kulampirkan surat keterangan kenal lahirku. Kalau kata mamaku siy sejak aku gak mau minum ASI lagi. Dan jadi pecandu susu formula yang rasanya manis sekali, makanya aku manis, ia kan? iya saja deh yaa... hehe maksaaa Pas bayi siy lucu chubby, semua gemas mencubit aku, tapi semakin besar aku jadi susah lari dan suka jatuh kalo jalan, tagibug kalo kata abahku almarhum. Tapi pas sd aku ga bgitu gemuk, apalagi pas pindah ke Sidoarjo dari Bekasi, aku sempat kurus lho, meski gak lama, pas masuk pondok di smp lah aku menggemuk. Karena bekalku banyak makanan, juga pondokku dekat indomaret, baru2nya musim indomaret tuh jadi kalo senggang aku sambil ambil uang di atm tadinya eh jadi jajan deh. Pas sma ku juga gemuk karena makanan di kantin sekolahku enak2. Dan teman2ku juga pada hobby ajak jajan. Saat itu tapi aku merasa baik2 saja dan sehat, pa...